Sabtu, 25 Mei 2013

Belajarlah sampai ke negeri cina

Salam hangat,

Kita sering mendengar nasehat bijaksana, 'belajarlah sampai ke negeri China'.

Untuk benar-benar belajar dengan pergi ke negeri China, selain perlu biaya besar untuk transportasi dan akomodasi, kita juga akan terkendala bahasa, karena orang China kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris. Dan meskipun saya pribadi sudah beberapa kali pergi ke China dengan total waktu menetap hampir sebulan. Tapi dalam tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai pengalaman itu.

Justru pembahasan yang lebih sederhana, dan mudah dilakukan. Tentang bagaimana cara untuk mempraktekkan nasehat bijaksana diatas.

Sebenarnya simpel saja, nasehat ini dapat kita praktekkan dengan kalimat 'belajarlah ke etnis China'. Karena sesungguhnya kondisi sebuah negara sangat ditentukan oleh budaya dan sikap manusia yang ada didalam negara itu. Nah budaya dan sikap biasanya akan selalu mengikuti manusianya kemana dia pergi.

Terbukti etnis China atau juga populer disebut etnis Tionghoa, yang telah menyebar di hampir seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia, pada umumnya mereka telah menjadi warga yang sangat sukses dibidang bisnis dan menguasai kekuatan ekonomi dinegara dimana mereka berada.

Konon di Indonesia sekitar 80% pergerakan ekonomi kita dikuasai etnis China. Artinya dari produsen sampai distribusi aneka barang dan kebutuhan masyarakat kita dikendalikan oleh pebisnis Tionghoa. Padahal populasi mereka mungkin tidak lebih dari 10%. Luar biasa bukan, terbukti berlaku hukum pareto dalam bidang pengusaan bisnis juga. Kita tentu tidak asing dengan nama pebisnis sekala nasional maupun regional seperti Eka Tjipta, William Suryajaya, Ciputra, Muhtar Riyadi dan puluhan tokoh bisnis besar Tionghoa lainnya.

Selain mereka-mereka tokoh yang terkenal, kita pun dapat dengan mudah menemukan engkoh dan encik pengusaha sukses, yang tampil sederhana dan jauh dari hiruk pikuk ketenaran ataupun penghargaan media. Dan tersebar dihampir semua sentra perdagangan ataupun industri di semua kota. Mereka mempunyai bisnis besar dan memperoleh keuntungan usaha ratusan juta atau milyaran rupiah perbulan. Tapi tetap hidup santai dan 'low profile', tidak seperti kebanyakan (maaf) Caleg dan Calon pejabat pribumi yang heboh dan tebar pesona sana sini, yang ujung-ujungnya menggunakan jabatanya hanya untuk mencari uang beberapa puluh juta perbulan (normalnya), dan bisa ratusan juta atau milyaran (untuk yang kurang normal).

Nah daripada kita bingung dan bengong melihat kelihaian bisnis para etnis Tionghoa ini, maka lebih baik kalau kita mau belajar dan turut ambil bagian dalam lingkaran bisnis mereka. Caranya, ya mulailah berteman dengan mereka, kemudian bertanyalah tentang sejarah bisnis dan kiat sukses mereka, kemudian minta tolong diajarin bisnis atau dikasih peluang bisnis. Maka mereka dengan senang hati akan bercerita tentang kegigihan mereka atau nenek moyang mereka dalam perjuangan membangun bisnis, jadi ada baiknya kita membawa tisu atau sapu tangan untuk mengelap mata kalau-kalau kita ikut terharu.

Nah sesudah itu minta diajarin atau peluang bisnis. Saya pribadi masih ingat ketika disuruh Kokoh pemilik pabrik alat rumah tangga untuk mengumpulkan keranjang kelengkeng bekas, dari lapak toko buah, pasar ataupun mall-mall, “Kamu beli aja satu set keranjang sama tutupnya Rp. 3.000 misalnya, ntar saya beli Rp.4500/set. Kalau dah terkumpul 1000 set, kamu telpon aku, ntar barang ku ambil dan duit ku transfer”

Itu lah sejarahnya salah satu awal bisnis saya, maka pada zaman itu, tukang buah dipinggir jalan dan pasar dr bekasi-cikarang-karawang serta mall giant,hero,superindo maupun makro adalah tempat yang kami sambangi untuk memperoleh keranjang.

Perkenalan demi perkenalanan dan kerjasama dengan kokoh dan encik terus meluas, dan bahkan saya bisa menjadi pedagang perantara diantara mereka, menjadi supplier bahan baku ataupun menjadi penjual barang mereka, dan mereka selalu dengan senang hati memberi kepercayaan barang atau uang kepada saya, serta berbagi ilmu tentunya.

Bahkan suatu kejadian yang cukup terkenang, ketika saya dateng ke tempat seorang pengusaha Tionghoa yang sudah lama saya kenal, dan kala itu kebetulan dia tengah asyik diskusi dengan temannya, maka ketika saya datang, dia dengan setengah bercanda bicara ketemannya “Sssttt...jangan kenceng-kenceng bicaranya, ada Mustofa, ntar dia denger dan bisa lebih pinter dari kita. Mustofa itu kulit hitam tapi otak putih. Kulitnya jawa otaknya China” ha ha ha, akhirnya kita tertawa bersama-sama dan dilanjut dengan minum teh hijau...

Belajarlah dan bekerjasamalah dengan etnis China to be a great entrepreneur ! Mustofa Romdloni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar