Senin, 29 April 2013

Teknik Negoisasi


Salah satu sesi menarik di salah satu training tentang perubahan yang pernah saya ikuti adalah teknik negosiasi. Negosiasi sebenarnya sebelumnya didahului oleh beberapa materi dasar seperti leadership training, karakter karyawan, 7 habits dan negotiation skill. Hal ini sangat mendasar perlu diketahui tentang bagaimana membuat komunikasi yang efektif dan efisien.

Salah satu bagian yang penting dalam hal ini jika merujuk 7 Habits of Highly Effective People adalah begin with an end in mind. Atau sederhananya, memulai dari akhir. Lebih sederhananya lagi adalah, sebenarnya kita mau ngapain sih yang jadi target akhir. Tanpa kita mengetahui akhir dari sesuatu maka akan sulit melakukan negosiasi.

Mengenai tipikal dan karakter orang membantu untuk memberikan gambaran metode pendekatan dari orang tersebut. Sayangnya saya agak lupa mengenai hal ini, ada banyak karakter yang dulu di workshop yang saya ikuti, tapi ada beberapa tipe yang bisa sampaikan, misal 'tukang ngegas', yang ini selalu bersikap optimis dan selalu memungkinkan menggunakan dengan berbagai cara dan terbuka, tapi punya kelemahan terlalu banyak opsi dan cenderung tidak mudah mengambil keputusan. Ada pula tipe tukang ngerem, ini kebalikannya, selalu memberi alasan dengan kritis serta menjadi penghambat dalam pengambilan keputusan, ada pula tipe 'ramai' alias tukang celetuk, tipe ini sering melakukan interupsi meskipun apa yang ia interupsi bisa saja bersifat valid, dan lain-lain. Hal ini akan membuat cara melakukan pendekatannya berbeda satu sama lain.

Secara umum, negosiasi itu mengacu kepada beberapa hal mendasar yang harus dilakukan agar negosiasi bersifat efektif dan efisien.

Pertama, jujur. Negosiasi akan berjalan baik jika kita melakukan secara jujur. Sebagai contoh untuk memberikan sebuah solusi kepada pelanggan dengan cara melakukan penjualan barang yang kita miliki, misal, katakanlah anda menjual sepatu safety. Jika kebutuhannya bisa ditutup hanya dengan cara menjual sepatu yang hanya seharga 100 ribu, jangan pernah mengakali agar pelangggan membeli sepatu lain seharga 200 ribu. Kejujuran mahal harganya, sekaligus membuktikan apakah kita ini layak dipercaya atau tidak.

Kedua, bersikap seimbang. Dalam hal negosiasi, tidak akan pernah terjadi jika salah satu bersikap lebih superior dibandingkan yang lawannya. Tidak ada negosiasi antar pemilik otoritas dan orang yang tidak memiliki otoritas. Apakah hal ini berarti atasan selalu menang? Sama sekali bukan !!! Jika dalam melakukan negosiasi meski kepada atasan atau kepada orang yang dianggap lebih memiliki otoritas, maka yang harus dilakukan adalah sikap memiliki keseimbangan antara orang yang melakukan negosiasi dan orang yang dinego. Jika kita melakukan proposal, maka kita memposisikan diri pada posisi orang yang memiliki otoritas. Misal, negosiasi dalam hal hutang piutang, kita menjadi negosiator, maka saat melakukan negosiasi harus dijelaskan batasan oleh si pemilik piutang untuk dapat mengambil keputusan dengan batas tertentu. Jika tidak ada batas, maka negosiasi menjadi hilang, kita hanya berfungsi sebagai juru bicara, bukan negosiator. Memposisikan diri berbeda dengan mengambil alih, memposisikan diri artinya kita menghargai diri kita sebagai lawan yang seimbang. Jika kita memposisikan diri sebagai lawan underdog, maka yang terjadi adalah salah satu pihak 'menindas' atau 'memohon/membujuk' yang lain, bukan melakukan posisi tawar.

Ketiga, mencari titik persamaan. Dalam hal melakukan negosiasi, bagian yang harus dilakukan adalah 'mendengar' dari sudut pandang orang lain dan melupakan prinsip kita sendiri. Dengan demikian, maka kita bisa mengerti mengapa orang lain melakukan sesuatu atau alasan yang jelas atas perilaku mereka. Hal yang sama juga harus disampaikan kepada pihak yang dinegosiasi untuk melakukan hal yang sama. Hal ini perlu dilakukan dari awal sekali melakukan negosiasi. Dengan demikian maka untuk mencari titik yang sama akan mudah dilakukan.

Keempat, fokus pada penyelesaian. Umumnya, untuk melakukan negosiasi, akan banyak sekali 'kembang' pembicaraan yang bercampur antara fakta, harapan, keinginan, dan ketidakmauan serta emosi. Fokuslah pada fakta dalam berbicara sehingga lebih mudah mencari penyelesaian. Dalam hal ini, terkadang kita perlu agak saklek dalam berbicara, karena negosiasi seringkali melibatkan emosi. Penyelesaian yang baik bersifat win-win yang memberi solusi kemenangan untuk kedual belah pihak. Salah satu bagian penting adalah dengan cara bersikap fair dan jujur karena solusi tidak boleh memaksakan satu sama lain.

Kelima, jujur pada logika. Ini sangat penting. Misal, ketika menegosiasikan ternyata ada hal yang tidak tepat atas hak dan kewajiban, maka secara logika kita harus menempatkan pada posisi yang benar. Misal, jika dalam kontrak, anda membeli barang dengan incoterm franco gudang si A, sementara pelanggan anda minta barang sebelum dikirim harus diinspeksi oleh pihak ketiga, maka secara jujur anda tidak bisa meminta membebankan biaya inspeksi kepada si A karena tidak ada dalam perjanjian. Jika anda akan menegosiasikan agar menjadi beban si A, maka anda harus seimbang memberikan benefit kepada si A dengan logis, contohnya, anda meminta biaya 50% beban si A, tetapi memberikan penambahan kemudahan pembayaran atau menaikan down payment kepada A. Artinya,kita harus sadar bahwa kewajiban dan hak harus selalu seimbang dan harus jujur secara logis.

Keenam, ini soal pendekatan, semakin kita mengetahui karakter seseorang, maka akan lebih mudah melakukan pendekatan yang bersifat personal. Contoh, jika lawan anda orang Jawa, dan anda orang Sumatra, maka cobalah ikuti logat Jawa-nya. Jika ia suka berbicara dengan nada rendah pelan, usahakanlah berbicara dengan nada rendah dan kecepatan bicara yang lebih kurang sama dengan dia. Jika ia suka memegang kumis, maka sesekali dengan gerakan yang mirip menyentuh kumis/bibir anda sendiri seperti ia melakukannya. Jika ia sesekali menunjuk dengan telunjuk, maka sesekali ketika anda berbicara bisa menunjukkan telunjuknya, dan lain-lain. Apakah ini seperti mengolok-olok? Sama sekali tidak ! Dengan cara demikian, maka dari cara kecepatan berbicara, nada rendah atau tingginya, atau naik turunnya nada, maka hal ini akan memudahkan partner yang anda negosiasikan akan menjadi lebih mudah secara psikologis untuk menerima anda.

Ketujuh : stick to the rule. Apapun yang menjadi kesepakatan, jadilah orang yang jujur dan memegang teguh janji. Seandainya anda mengalami kesulitan lagi, maka tahapan dari awal seperti melakukan pendekatan, memahami satu sama lain, dan seterusnya, harus dilakukan dari awal lagi. Semakin sering anda melakukan negosiasi yang berulang-ulang atas hal yang sama, maka anda semakin tidak dipercaya. Maka hindari negosiasi yang bersifat pengulangan.

Terakhir, ini pengalaman yang saya dapatkan dari rekan-rekan saya : ketika melakuan pengambilan keputusan, jangan pernah lebih dari 5 menit untuk melakukan decision/keputusan. Semakin lama anda melakukan timbang sana timbang sini, semakin menunjukkan karakter anda yang plin plan. Jika pada saat itu tidak dapat diputuskan, lebih baik anda tidak melanjutkan negosiasi, dan ngobrolah ngalor ngidul yang lain, lalu tinggalkan tempat negosiasi, datanglah lagi setelah anda beri jeda waktu.

Demikian kiranya, disarikan dari berbagai sumber seperti traing-training yang pernah saya ikuti, pengalaman dan sharing dari teman-teman.

wassalam ww

--Adi Nugroho Resto d'Pitik www.dpitik.com Enaknya Nampoolllzzz... Yummmzzz...

Kelebihan dan Kekurangan Wordpress

Assalamualaikum..

Setelah kemarin sempat menulis mengenai Teknik Pemilihan Keyword dan Penerapan nya pada Website, mungkin ada beberapa teman yang bertanya kenapa saya selalu menyebut2 wordpress ya?

Nah, disini saya coba sedikit menjelaskan mengenai Kelebihan dan Kekurangan Wordpress terutama untuk Toko Online, semoga membantu mencerahkan teman2 ...

Wordpress.org

Pertama, kita sepaham dulu ya, kalau yang akan kita gunakan adalah wordpress.org alias wordpress yang di instal di hosting/server kita sendiri. Bukan wordpress.com yang gratisan, wokeh..

Kelebihan CMS Wordpress

1. Sangat mudah proses instalnya, yang paling mudah melalui cpanel 2. Dashboard atau Admin Area yang User Friendly 3. Terdapat Widget yang praktis digunakan 4. Template atau Desain nya banyak, bahkan template yang gratisan pun terlihat profesional 5. Struktur Engine Wordpress sangat disukai Google ( Search Engine Friendly), ini yang membuat wordpress mudah dioptimasi dan jadi andalan nya para internet marketer..heheeheh... 6. Tersedia Plugin-plugin yang siap instal 7. Tersedia Themes/Template Desain yang profesional yang dapat dengan mudah diganti lewat Admin Area

Kekurangan CMS Wordpress

1. Harus sering update, bila kita menggunakan wordpress, sebaiknya selalu mengikuti update yang disediakan oleh wordpress.org maupun dari penyedia plugin dan themes. Hal ini dilakukan agar website kita aman dari para hacker yg tidak bertanggung jawab. Kemudahan instal Plugin dan Themes di wordpress memang merupakan kelebihan sekaligus kekurangannya.

2. Untuk toko online wordpress, biasanya themes/desainnya berbayar. Tapi hal ini sebanding dengan fitur-fitur yang diberikan.

Segini dulu dari saya, mungkin teman-teman lain bisa menambahkan di bawah yaaa....

================================== -desi-

0857.1030.4489 webdesainstudio@yahoo.com

Pengusaha Kelas Roti Boy atau Warteg

Pengusaha Kelas "Roti Boy" atau Pengusaha Kelas "Warteg" ?

Selamat pagi sahabat TDA ?

Semoga sehat selalu dan penuh berkah. Bagi yang sedang long weekend, semoga yang punya bisnis sedang rame order ya... Selamat berpanen ria.

Beberapa hari lalu saya sempat mendengar banyak curhatan rekan-rekan pebisnis mengenai akselerasi bisnis mereka. Mulai dari pebisnis kuliner, souvenir, jasa, dan sejenisnya.

Hal yang dikeluhkan rata-rata adalah mengenai kewalahan terhadap bisnis yang dikelola. Loh, bukannya malah seneng ya kalau banjir order ?

"Seneng sih iya, tapi capeknya itu lhooo..."

Hehehe, ya konsekuensi sih menurut saya, namun ternyata setelah digali, pokok permasalahannya bukan di ramai ordernya, tapi produk bisnisnya.

Ya, produk kadang menjadi perhatian remeh beberapa sahabat pengusaha. Banyak pengusaha pemula yang mengawali karir dengan menyediakan banyak alternatif produk. Terlalu customize...

Ini yang sering saya katakan Busy Ness, bukan Business.

Pengusaha makanan, terjebaknya ingin menjual semua menu. Padahal jika beralih spesialis satu jenis tertentu, maka fokusnya sudah bukan di produksi, tapi sudah masuk ke pengembangan bisnis dan pensisitiman.

Pengusaha souvenir yang menawarkan made by order, juga aga sedikit terkendala dalam hal duplikasi bisnisnya. Karena ini dampaknya kepada kompleksnya SOP dan semakin kompleksnya pekerjaan yang harus dilakukan, semakin sedikit pula ketersedian tenaga kerja dengan skill tertentu.

Yang jasa pun demikian. Unda undi nasibnya dengan dengan si pengusaha souvenir yang made by order.

Oleh karena itu, jika bisnis Anda ingin mengalami percepatan dalam penjualan, coba pilih satu produk yang unggulan. Sisanya disimpan dulu rapi-rapi.

Roti boy, dengan menciptakan 1 produk saja, persebarannya jauh lebih cepat dibanding dengan orang yang membuat jajanan pasar yang jualannya lemper, kucur, bubur madura, cenil.

Fokusnya setelah membuat produk, adalah menjual sebanyak2nya dengan cara yang sistimatis. Kalaupun diminta untuk inovasi produk, paling cuma dikasih beda rasa. Dari butter, diganti coklat. Udah, begitu saja.

Sementara pengusaha warteg, terhambat pertumbuhannya karena ingin menyenangkan hati pelanggan. Khawatir pelanggan bosan, akhirnya energinya terkuras ke pemilihan menu. Sekarang masak sop, besok sayur lodeh, besok kare. Inilah busyness (red : kesibukan)

Contoh lain dari ini juga kita bisa lihat pada industri MLM.

Ada MLM yang menjual produk PALUGADA (apa lu minta gua ada) pertumbuhannya tidak akan secepat yang fokus 1 produk.

Ketika saya bicara kalsium, trademarknya adalah tianshi ketika saya bicara klorofil, munculnya pasti kalau ndak KLINK ya Synergi. Ketika saya berbicara susu kedelai, yang tertuju juga pasti MELILEA.

Di dunia konvensional pun, saya ada perusahaan keluarga, bisnis permakan celana jeans dengan trademark DOCTOR JEANS di di Jalan Pucang Anom -Surabaya, ketika ramai order (umumnya adalah moment lebaran) maka manuver jasa yang diberikan pun otomatis kami batasi.

Jasa permak itu luas, mulai dari mengecilkan ukuran pinggang, memperbesarnya, ganti resleting, pasang kancing, potong kaki bawah, nambah kaki bawah, tisik (nambal), dan seterusnya... Total kalau di price list ada sekitar 30 an item.

Karena kami konsepnya adalah Berbisnis, maka ketika masuk H-7 lebaran, perusahaan kami hanya melayani potong kaki bawah saja. Memang tarifnya sangat murah, cuma Rp 7.500

Tapi pekerjaan ini cuma dikerjakan dalam waktu 10 menit saja. Dengan bantuan 8 orang penjahit di 1 stand, dalam satu minggu bekerja saja penjahit saya bisa mengantongi skitar Rp 2 juta rupiah plus THR dari saya Rp 1 jt. (Kebetulan konsep bisnis kami adalah bagi hasil 40% untuk penjahit, 40% untuk perusahaan, dan 20% untuk operasional)

Artinya, jika setiap penjahit saya bisa menghasilkan Rp 2jt dalam minggu itu, perusahaan menerima profit Rp 2jt x 8 = Rp 16jt

Angka yang sangat bisa disyukuri, mengingat kerjanya juga tidak terlalu memeras keringat dan pemikiran. Bagi saya, inilah bisnis. Fokus menciptakan profit, bukan menambah pekerjaan.

Hal lain yang hari ini saya sedang kerjakan juga adalah bagaimana merubah konsep agent asuransi menjadi bisnis asuransi. Kelemahan asuransi yang saya amati adalah para agent yang ada menawarkan produk seperti tabib.

Produk asuransi itu banyak, mulai dari jiwa murni ada, asuransi kesehatan, pensiun, penyakit kritis, kecelakaan, dan lain-lain.

Bahkan ada trainingnya yang berbulan bulan.

Kembali ke kaidah awalnya, jika mau berbisnis, maka harus mau mengambil satu produk saja, sisanya disimpan yang rapi.

Pilihan saya, akhirnya memakai produk penyakit kritis sebagai produk utama. Konsep penawarannya adalah menabung.

Kalau presentasi cuma tinggal bilang,

"Nabung 1jt, dapat proteksi kesehatan 1M, dana warisan 1M, dan tabungan.. Terserah besarnya berapa, kalau 10th ya jadi 120jt (plus profit)... Kalau 20 th ya 240jt (plus profit)"

Ndak sampai 5 menit, setelah itu sesi tanya jawab dengan konsumen.

Dan ternyata benar, setelah pola pikirnya dirubah, kinerjanya pun berubah. Hanya dalam hitungan minggu saja, sudah di grup yang baru ini sudah ada 80 orang Man Power, lengkap dengan omsetnya yang setara dengan mereka berkarir di asuransi selama 5th.

Dimana setahu saya para senior agent asuransi rata-rata setelah bertahun-tahun kalau saya survey paling cuma grup 5 orang, 10 orang, mentok 20an... Dan itu tahunan dapatnya.

Ketika ditanya, kenapa kok ndak rekrut yang banyak, jawabnya rata-rata, "Halah mas, wong saya ngurus diri saya sendiri saja sudah keteteran"

Jawaban paliatif memang, karena di dunia asuransi, jika orang sudah mengetahui teknik jualannya, mereka akan termotivasi untuk berjualan terus menerus. Bahkan ada sebuah penghargaan yang dinamakan MDRT yaitu yang berhasil menjual 500jt per tahun.

Jualan memang membuat kita kaya, namun sistim menjadikan kita passive income.

Hal ini yang juga menjadikan pertumbuhan orang di asuransi tidak secepat orang MLM. Dari pengalaman saya di MLM, rata-rata per tahun pertumbuhan grup bisa tembus 1000-2000an orang. Dengan omset 3M per bulan, 5M, 10 M. Hal yang sama pun ternyata dialami oleh pelaku bisnis MLM yang lain.

Salah satu faktor leveragenya adalah simplicity (kesederhanaan)

Kalau saya lebih suka jual satu produk fokus, selebihnya habiskan energi untuk buka cabang sebanyak-banyaknya.

Jadi, mau jualan produk apa Anda hari ini ?

Salam hangat,

Alfian Anjar HP 081 225 90 7576

Kiat Berpromosi


Selepas dari jeratan ajaran mbah Mofied akhirnya hari ini saya kembali menulis yang benar. Cerita pertama mengenai Paket gratis hari Kartini di Kupat Tahu Bandung (KTB). Sudah 4 tahun setiap hari Kartini dan hari Ibu ada promo paket gratis khusus ibu2/wanita di KTB.

Ide promo berawal saat pembukaan beberapa usaha kuliner (bakso, cabang kupat tahu, crepes) dengan paket gratis. Ternyata responnya cukup bagus. Karena menurut pengamatan hanya 2 kata yang akan menarik perhatian orang. Kata GRATIS dan PENGUMUMAN.

Untuk memperkuat branding maka dipilihlah hari Kartini dan hari Ibu sebagai moment untuk promo. Kenapa dipilih targetnya ibu2?

1. Merupakan saluran media promosi yang paling baik 2. Jajan lebih royal 3. Suka berkelompok (dgn teman/keluarga)

"Gak rugi?" "Gak lah..malahan untung.." "Lho kok bisa?"

Gini ceritanya adik adikku….

Kalimat promosinya

Selamat hari Kartini Sebagai rasa hormat kepada para ibu/wanita kami persembahkan paket GRATIS KUPAT TAHU BANDUNG Khusus untuk para ibu/wanita Minggu 21 April 2013 *makan di tempat

Dibuat poster untuk ditempel 5 buah dengan biaya 5 x Rp. 4.500,- = Rp. 22.500,-

Hasilnya….

Pukul 6 pagi konsumen sudah mulai berdatangan. Berombongan. Sudah bisa ditebak, begitu makan langsung telpon temannya. Ngasih tahu ada promo gratis. Makin siang makin ramai….

Kapasitas tempat duduk hanya muat 30 orang, sebagian nunggu berdiri. Terus mengalir sampai sore. Terhalang hujan waktu ashar, konsumen mulai berdatangan lagi setelah magrib. Karena kecapain, warung tutup jam 20.15 Pantauan di lapangan…

Promonya: "Gratis makan kupat tahu bandung khusus ibu2/wanita. makan di tempat"

Faktanya: 1. hampir tidak ada yang hanya datang untuk makan gratis, minimal minumnya teh botol (kalo minumnya teh tawar, gratis). 2. makan 1 porsi di tempat dibungkus 2 porsi (untuk kel dirumah, kalo gak dianter suami) 3. makan kupat tahu, nambah produk lain (mie ayam, bakso) 4. bawa rombongan keluarga (suami, anak)

Hitungannya.. Modal kupat tahu = 4.200,-, harga jual 10.000 Modal mie ayam = 3.500,-, harga jual 10.000 Modal bakso = 5.000,- , harga jual 10.000 Teh botol = 1.500,- harga jual 3.000

Makan di tempat 1 porsi dibungkus 1 porsi = bayar 10.000,- modal 8.400,-Makan kupat tahu, nambah mie ayam = bayar 10.000,- modal 7.700,-Makan kupat tahu, minum teh botol = bayar 3.000,- modal 5.700

Dan setelah di cek sore hari, ada sekitar 600 porsi KTB yang keluar hari kemarin (diluar Bakso, mie ayam dan nasi ayam).

"Ada sisa uang berapa?", tanya saya ke istri setelah hasil kalkulasi malam harinya "Dikurangi belanja masih tersisa sekitar 800 ribu rupiah.."

Promosi yang menguntungkan. 1. Branding usaha 2. Menambah database konsumen 3. Profit

Terima kasih para ibu/wanita yang sudah mampir ke KTB, terima kasih sudah mempromosikan usaha kami..

Salam promosi

Ato Sunarto Kupat Tahu Bandung Jl. Rusa Raya no. 47 Kota Jababeka Cikarang Bekasi

Minggu, 21 April 2013

Cara Goblok Jadi Pengusaha

Salam Hangat,

Tulisan ini diilhami oleh pertemuan saya dengan pengusaha yang cukup berhasil dan sudah berpengalaman sebagai mentor ataupun pengisi seminar di banyak kesempatan. Judul seminar andalan dia adalah “Cara Goblok jadi Pengusaha” meskipun judul ini juga yang sering dipakai Bob Sadino, kalau Cara Gila Jadi Pengusaha saya sudah cukup banyak belajar dan praktekkan ilmunya dan memang terbukti hasilnya. Tetapi untuk “Cara Goblok Jadi Pengusaha “ saya akhirnya merenung dan berfikir, apa jurus ini juga berlaku dalam proses bisnis yang saya jalani.

Akhirnya saya teringat beberapa bulan lalu, saat intens berkomunikasi dengan teman-teman kuliah dalam dunia facebook, bbm dan kopi darat juga. Terjadilah momen bbm an dengan grup teman kuliah, yang salah satu membernya teman kuliah keturunan Tionghoa yang sewaktu kuliah memang dikategorikan mahasiswi pinter spektakuler, dimana nilai IPK nya 3,9 sekian (nyaris sempurna 4.0) dan lulus kuliah sangat cepat serta di kategorikan cumlaude. Karena kita sudah lama lulus, jadi bisa bicara santai mengenang masa lalu, salah satu yang teman-teman tanyakan adalah gimana resepnya kok dia bisa sepinter itu dan memperole IPK setinggi itu. Tetapi jawaban teman saya ini sungguh mengejutkan, dia bilang “Sekarang punya IPK tinggi ndak penting, yang penting gimana punya pabrik kayak Mustofa”, wow cukup tersanjung saya. Karena temen saya ini terakhir berkarir disalah satu perusahaan besar nasional, dan kemudian resign untuk memulai beberapa bisnis kecil.

Kemudian,suatu ketika salah satu teman kuliah saya dulu yang tergolong cerdas, SMS ke saya yang intinya, dia mau maen kerumah untuk belajar sama saya. Kemudian saya balas, mau “Mau belajar apaan?, lha wong saya dulu yang belajar dari sampeyan, dan IPK sampeyan jauh lebih tinggi dari saya”, eh dia malah nimpalin “Sekarang yang penting bukan IPK yang Indeks Prestasi Kumulatif tapi Indeks Pendapatan Kumulatif”. Wow, saya kaget lagi, mendengar jawaban temen saya ini.

Kalau dari sisi nilai kuliah memang saya tergolong sedang saja dan jauh lebih goblok dari teman-teman diatas, bahkan sewaktu saya lulus, IPK saya yang hanya dua koma sekian, waktu itu adalah IPK dibawah rata-rata teman lulusan seangkatan saya yang tiga koma sekian. Cukup malu juga, apalagi orang tua mendengar saat dibacakan soal nilai itu. Pernah juga sewaktu kuliah, saking saya tidak pahamnya pada suatu mata kuliah, maka saya memutuskan untuk selalu jadi pembawa proyektor (OHP), dari kantor jurusan ke ruang kuliah yang jaraknya puluhan meter, ketika dosen mata kuliah itu mengajar, tujuannya biar pak dosen simpati dan bisa kasih nilai bagus he he he. Dan apesnya ternyata tetep saja saya dikasih nilai jelek, setelah mengulang satu semester lagi, barulah nilai mendingan yakni dapet 2.5.

Nah, kalau dari sisi proses menjadi pengusaha, setelah saya renungkan, ternyata memang benar saya cenderung menerapkan ilmu Cara Goblok ini. Justru ini rupanya kunci yang membawa bisnis saya lumayan berkembang seperti sekarang. Apa saja ya kira-kira kegoblokan saya:

1. Saya dari dulu ndak pernah banyak analisis, kalau bisnis atau peluang saya rasa-rasa bagus ya jalanin aja.

2. Saya pun menggoblokkan diri, dengan membuang jauh-jauh rasa malu, jadi prinsipnya gengsi ndak bikin sukses...Jadi saya rela memulai bisnis jualan ini itu yang terkesan ndak elit banget, termasuk sabun, sendal jepit, keranjang bekas, ayam bakar, sampah plastik lah....dst

3. Trus kalau bisnis gagal....saya ketawa-ketawa aja....memang sih awal-awalnya agak stress, tapi udah itu ya menerima dan bisa menertawai kegagalan, kayak artikel Om Eko June kemaren....kalau sudah bisa ketawa artinya hati plong dan....ya coba lagi....jadi enjoy aja...

4. Nah, terakhir ini mungkin bentuk kegoblokan utama saya yakni, karena merasa goblok maka selalu membuka diri dan mau terus belajar....nah belajar ini setahu saya cukup banyak orang yang mau....tetapi bedanya saya orangnya penasaran kalau belum dicoba, jadi saya selalu berusaha mempraktekkan apa-apa yang saya pelajari.

Karena menurut saya, belum ada cara yang bisa mengalahkan kerja nyata alias action, untuk meraih sukses. Dan niat dari awal pengin jadi pengusaha sukses, bukan pengin sukses belajar jadi pengusaha sukses....ntar jadinya profesor atau pengamat wirausaha, bukannya pelaku wirausaha.

Coba deh kalau di ingat-ingat sharing-sharing saya sebelumnya....rata-rata apa yang saya lakukan kebanyakan hanyalah mengikuti petunjuk dari para pelatih sukses ataupun contoh-contoh dari para pebisnis sukses. Jadi saya bisa sharing sekarang bukan karena saya pinter, tapi kebetulan saya udah belajar dan nyobain lebih dulu....

Banyak guru tempat saya belajar, mungkin puluhan tokoh bisnis yang saya belajar dari mereka, entah berupa seminar, buku-buku, radio ataupun internet....termasuk temen-temen di TDA ini tentunya.

Contoh kemauan saya belajar dan praktek adalah seperti terakhir ikut training adwords yang diajarkan Pak Rawi di Samikuring.

Cuma bedanya kalau sekarang tidak selalu saya sendiri yang ikut training atau seminar, bisa kirim atau ajak karyawan.

Ngomong-ngomong soal adwords, staff yang saya ajak pelatihan kemarin lah yang rajin otak-atik....dan memang ada hasilnya loh...terakhir ada produsen mainan anak-anak di Solo, yang mampir ke web saya, setelah googling... Seru deh ceritanya... dari dapet permintaan produk, sampai staff saya ngiderin beberapa pull bis untuk ngirim sampelnya ke Solo, setelah kesengsem dengan hasil pakai biji plastik kami, kemudian jauh-jauh dari Solo, saking urgent dan semangatnya, pelanggan ini nyamperin pabrik saya di Bekasi untuk tatap muka dan pembahasan lebih lanjut, trus dia beli sampel lagi senilai 3 jutaan, dan dia bawa langsung pakai mobil supaya bisa mencoba lebih banyak, dan lanjutanya pagi ini saya menerima order seniali hampir RP. 20 Juta, Alhamdulillah. Nah serunya lagi, kalau semua mesin dia sudah siap, maka katanya bulan-bulan kedepan total order bisa lebih dari Rp. 500 jt/bulan, semoga sukses Aamiin. Jadi saat ini saya mau bilang terima kasih ke TDA Bekasi dan Pak Rawi tentunya....

Nah mbalik ke soal goblok tadi, kemauan belajar dan praktik ini kalau istilah kerennya adalah ‘teachable’, alias menjadi orang yang gampang belajar dan melakukan apa yang dipelajari. Tentu yang relevan dan pas alias kita sesuaikan dengan diri kita atau bisnis kita.

Sudahkah Anda menggoblokkan diri?

Salam Goblok...To Be a Great Entrepreneur !

Mustofa Romdloni

Gagal itu Biasa

Salam hangat,

Dahlan Iskan menyuruh kita untuk segera menghabiskan jatah kegagalan masing-masing, dan Robert Kiyosaki bilang, pada umumnya orang akan kehilangan 3 usaha atau perusahaan terdahulu, sebelum akhirnya berhasil membangun sebuah bisnis yang benar2 sukses

Nah, seperti biasa, kalau para guru bicara saya mencoba mengevaluasi apa yang sudah saya lakukan dan ternyata untuk kegagalan usaha saya dapat membuat list yang lumayan, ini blm termasuk kegagalan project-project dalam sebuah bisnis dan juga gagal dalam target2 pribadi sedari jaman kuliah misalnya.

Berikut ini Daftar kegagalan bisnis kami: 1. 2001 melaunching bisnis les privat dan gagal, meski sudah menyebar nyebar brosur, tidak dapat murid jg.

2. 2002-2005 bisnis MLM pernah punya grup 100an orang dan akhirnya rontok akut, rugi puluhan juta dan meninggalkan hutang bbrp kartu kredit, belum lagi rugi fisik, waktu dan mental.

3. 2005-2007 mendirikan perusahaan jasa ekspedisi pengiriman barang, kontraktor dan general trading, pernah menghandel grup Wings, akhirnya bangkrut, tagihan pelanggan besar (bukan Wings) tdk dibayar dan duit digerogoti partner padahal sudah hutang bank dan kartu kredit lebih dr 150 juta, untuk beli truk bekas dan modal kerja. Butuh bertahun2 membayar cicilan bank tsb.

4. 2006-2007 bisnis warung ayam bakar sdh 2 cabang akhirnya tutup

5. 2009-2010 meski scr finansial kami tidak rugi, tapi projek untuk mendirikan pabrik dg pengusaha Malaysia gagal, krn mereka belum siap secara finansial. Padahal semua proses panjang ijin, pengembangan bisnis dan pasar di indonesi sudah dijalankan dan memakan energi dan waktu berbulan2, serta harapan yg sangat besar thd bisnis tsb. Akhirnya kami hanya bisnis perdagangan dg mereka

6. 2010 mendirikan Perusahaan dg memodali teman yg jalanin sbg direktur. Akhirnya usaha ditinggal kabur teman tsb, modal amblas dan rugi reputasi dihadapan supplier

7. 2011 masuk dlm bisnis pasar finansial electronic trading futures dan rugi milyaran...

Kegagalan bukan hal yang kita inginkan, tetapi setiap tindakan terutama dalam upaya untuk mengembangkan usaha, tentu selalu diiringi resiko juga.

Kalau saya pribadi terus berusaha bersikap positif terhadap kegagalan dalam bisnis. Dan menyimpulkan bahwa: Kalau sudah kehilangan puluhan juta, maka selanjutnya menghasilkan puluhan juta menjadi mudah.

Kalau sudah kehilangan ratusan juta, maka selanjutnya menghasilkan ratusan juta menjadi mudah.

Dan kalau sudah kehilangan milyaran, maka selanjutnya menghasilkan milyaran menjadi mudah.

Eits, jangan salah arti kita disuruh nyari gagal biar sukses. Tapi sekali lagi, ini adalah sikap yang mesti kita punya, jika ternyata usaha yg kita lakukan dengan keras, ternyata tidak berhasil.

Jadi buat yang telah, sedang atau akan mengalami kegagalan. Ayo tetap semangat... Seperti yang di ungkapkan Abraham Lincoln ”Sukses adalah perjalanan dari kegagalan ke kegagalan, tanpa kehilangan antusiasme Anda”.

Thomas Edison, pendiri 14 perusahaan (termasuk GE), mengatakan “Kami pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal”.

Ayo, silahkan yang akan sharing kegagalan...pemirsa silahkan menyiapkan tisu air mata masing-masing...

Salam Great Entrepreneur ! Mustofa Romdloni

------------------------------------

Cash flow? Siapa takut


Salam Hangat, Berikut ini sharing copas live chat fb saya (MR) dan pebisnis pemula (MS)...disingkat ke pokok pembicaraan, semoga bermanfaat.

MS: "Aku lagi mengalami masa2 resign bos, pait ya... Hehehe"

MR: "Ya ya ya...bagian dari proses...mesti tahan banting he he he. Bisnis apa?"

MS: "Bisnis EO, aku lagi kejar gathering2" "Ya, merasakan punya karyawan, tapi gak punya duit..."

MR: "Biasa...biasa...dulu aku gaji karyawan yg profesional...akunya sendiri tukang bersih2 kamar mandi ha ha ha...dia yg digaji gedhe...aku buat ongkos aja...”

MS: ”Haduh... Iya nasibnya pernah begitu juga ternyata. Ha ha ha”

MR: “Ya iya lah...siiip...yang penting fokus sama impian...”

MS: “Pak bos, dulu pernah kesandung masalah permodalan gak?”

MR: “Iyya...itu bagian yang harus disiasati...kalo bisnis dah jalan enak...coba cari teman yg punya modal lumayan, pinjem tapi pake sistem bagi keuntungan bulanan dg tempo, misal 6 bulan modal dibalikin. Yang penting kita dah punya proyek yang jelas, jadi yakin bisa bagi profit dan balikin modal”.

MS: “Iya...cuma cara meyakinkannya gimana bos...kalo lagi posisi begini kan muka kita kusut...hehehe”

MR: “Ya itulah...jadi pengusaha modalnya pede dan semangat...kalo yg lain dah gak punya juga...masak pede dan semangat juga gak punya ???...”

MS: “Hahahaa...iya iya” MR: “Dulu aku reuni sama temen2 kuliah, bela2in pinjem H1 Hyundai (yg mirip Alphard) pakai supir...mobil ini dibuat ngangkut temen2 dr jakarta dan muter2 di Semarang. Trus ktemu temen2 cerita aku bisnis bla bla bla...sampai akhirnya salah satu teman (yg jd orang kaya duluan) invest sampe 650jt an dg skema diatas...walhasil kepuyengan butuh uang bisa diatasi dengan oke banget.”

MS: “Heum...”

MR: “Nah itulah perlunya tetap semangat...supaya ide ide segar bisa keluar...keep fight and enjoy aja...”

MS: “Soal modal emang paling riskan ya...hehehe...”

MR: “Sebenarnya lebih tepatnya cash flow... Ada cara lain...supplier kita jaga hubungan baik, sedari order kecil...selanjutnya dari bayar cash, kita minta tempo 1 bulan misalnya, trus kita nagih ke pelanggan cash atau tempo maksimal 2 minggu. Jadi ketika dapet pembayaran, baru kita bayar ke supplier2 kita... Itu cara yang top markotop juga. Aku udah buktikan semua.”

MS: “Oke... Wih... Emang top sharing sama juragan ini...”

MR: “There are ways to get there... Oke sholat dulu...”

MS: “Yups...Thanks a lot”

Salam Great Entrepreneur ! Mustofa Romdloni