Salam Hangat,
Tulisan ini diilhami oleh pertemuan saya dengan pengusaha yang cukup berhasil dan sudah berpengalaman sebagai mentor ataupun pengisi seminar di banyak kesempatan. Judul seminar andalan dia adalah “Cara Goblok jadi Pengusaha” meskipun judul ini juga yang sering dipakai Bob Sadino, kalau Cara Gila Jadi Pengusaha saya sudah cukup banyak belajar dan praktekkan ilmunya dan memang terbukti hasilnya. Tetapi untuk “Cara Goblok Jadi Pengusaha “ saya akhirnya merenung dan berfikir, apa jurus ini juga berlaku dalam proses bisnis yang saya jalani.
Akhirnya saya teringat beberapa bulan lalu, saat intens berkomunikasi dengan teman-teman kuliah dalam dunia facebook, bbm dan kopi darat juga. Terjadilah momen bbm an dengan grup teman kuliah, yang salah satu membernya teman kuliah keturunan Tionghoa yang sewaktu kuliah memang dikategorikan mahasiswi pinter spektakuler, dimana nilai IPK nya 3,9 sekian (nyaris sempurna 4.0) dan lulus kuliah sangat cepat serta di kategorikan cumlaude. Karena kita sudah lama lulus, jadi bisa bicara santai mengenang masa lalu, salah satu yang teman-teman tanyakan adalah gimana resepnya kok dia bisa sepinter itu dan memperole IPK setinggi itu. Tetapi jawaban teman saya ini sungguh mengejutkan, dia bilang “Sekarang punya IPK tinggi ndak penting, yang penting gimana punya pabrik kayak Mustofa”, wow cukup tersanjung saya. Karena temen saya ini terakhir berkarir disalah satu perusahaan besar nasional, dan kemudian resign untuk memulai beberapa bisnis kecil.
Kemudian,suatu ketika salah satu teman kuliah saya dulu yang tergolong cerdas, SMS ke saya yang intinya, dia mau maen kerumah untuk belajar sama saya. Kemudian saya balas, mau “Mau belajar apaan?, lha wong saya dulu yang belajar dari sampeyan, dan IPK sampeyan jauh lebih tinggi dari saya”, eh dia malah nimpalin “Sekarang yang penting bukan IPK yang Indeks Prestasi Kumulatif tapi Indeks Pendapatan Kumulatif”. Wow, saya kaget lagi, mendengar jawaban temen saya ini.
Kalau dari sisi nilai kuliah memang saya tergolong sedang saja dan jauh lebih goblok dari teman-teman diatas, bahkan sewaktu saya lulus, IPK saya yang hanya dua koma sekian, waktu itu adalah IPK dibawah rata-rata teman lulusan seangkatan saya yang tiga koma sekian. Cukup malu juga, apalagi orang tua mendengar saat dibacakan soal nilai itu. Pernah juga sewaktu kuliah, saking saya tidak pahamnya pada suatu mata kuliah, maka saya memutuskan untuk selalu jadi pembawa proyektor (OHP), dari kantor jurusan ke ruang kuliah yang jaraknya puluhan meter, ketika dosen mata kuliah itu mengajar, tujuannya biar pak dosen simpati dan bisa kasih nilai bagus he he he. Dan apesnya ternyata tetep saja saya dikasih nilai jelek, setelah mengulang satu semester lagi, barulah nilai mendingan yakni dapet 2.5.
Nah, kalau dari sisi proses menjadi pengusaha, setelah saya renungkan, ternyata memang benar saya cenderung menerapkan ilmu Cara Goblok ini. Justru ini rupanya kunci yang membawa bisnis saya lumayan berkembang seperti sekarang. Apa saja ya kira-kira kegoblokan saya:
1. Saya dari dulu ndak pernah banyak analisis, kalau bisnis atau peluang saya rasa-rasa bagus ya jalanin aja.
2. Saya pun menggoblokkan diri, dengan membuang jauh-jauh rasa malu, jadi prinsipnya gengsi ndak bikin sukses...Jadi saya rela memulai bisnis jualan ini itu yang terkesan ndak elit banget, termasuk sabun, sendal jepit, keranjang bekas, ayam bakar, sampah plastik lah....dst
3. Trus kalau bisnis gagal....saya ketawa-ketawa aja....memang sih awal-awalnya agak stress, tapi udah itu ya menerima dan bisa menertawai kegagalan, kayak artikel Om Eko June kemaren....kalau sudah bisa ketawa artinya hati plong dan....ya coba lagi....jadi enjoy aja...
4. Nah, terakhir ini mungkin bentuk kegoblokan utama saya yakni, karena merasa goblok maka selalu membuka diri dan mau terus belajar....nah belajar ini setahu saya cukup banyak orang yang mau....tetapi bedanya saya orangnya penasaran kalau belum dicoba, jadi saya selalu berusaha mempraktekkan apa-apa yang saya pelajari.
Karena menurut saya, belum ada cara yang bisa mengalahkan kerja nyata alias action, untuk meraih sukses. Dan niat dari awal pengin jadi pengusaha sukses, bukan pengin sukses belajar jadi pengusaha sukses....ntar jadinya profesor atau pengamat wirausaha, bukannya pelaku wirausaha.
Coba deh kalau di ingat-ingat sharing-sharing saya sebelumnya....rata-rata apa yang saya lakukan kebanyakan hanyalah mengikuti petunjuk dari para pelatih sukses ataupun contoh-contoh dari para pebisnis sukses. Jadi saya bisa sharing sekarang bukan karena saya pinter, tapi kebetulan saya udah belajar dan nyobain lebih dulu....
Banyak guru tempat saya belajar, mungkin puluhan tokoh bisnis yang saya belajar dari mereka, entah berupa seminar, buku-buku, radio ataupun internet....termasuk temen-temen di TDA ini tentunya.
Contoh kemauan saya belajar dan praktek adalah seperti terakhir ikut training adwords yang diajarkan Pak Rawi di Samikuring.
Cuma bedanya kalau sekarang tidak selalu saya sendiri yang ikut training atau seminar, bisa kirim atau ajak karyawan.
Ngomong-ngomong soal adwords, staff yang saya ajak pelatihan kemarin lah yang rajin otak-atik....dan memang ada hasilnya loh...terakhir ada produsen mainan anak-anak di Solo, yang mampir ke web saya, setelah googling... Seru deh ceritanya... dari dapet permintaan produk, sampai staff saya ngiderin beberapa pull bis untuk ngirim sampelnya ke Solo, setelah kesengsem dengan hasil pakai biji plastik kami, kemudian jauh-jauh dari Solo, saking urgent dan semangatnya, pelanggan ini nyamperin pabrik saya di Bekasi untuk tatap muka dan pembahasan lebih lanjut, trus dia beli sampel lagi senilai 3 jutaan, dan dia bawa langsung pakai mobil supaya bisa mencoba lebih banyak, dan lanjutanya pagi ini saya menerima order seniali hampir RP. 20 Juta, Alhamdulillah. Nah serunya lagi, kalau semua mesin dia sudah siap, maka katanya bulan-bulan kedepan total order bisa lebih dari Rp. 500 jt/bulan, semoga sukses Aamiin. Jadi saat ini saya mau bilang terima kasih ke TDA Bekasi dan Pak Rawi tentunya....
Nah mbalik ke soal goblok tadi, kemauan belajar dan praktik ini kalau istilah kerennya adalah ‘teachable’, alias menjadi orang yang gampang belajar dan melakukan apa yang dipelajari. Tentu yang relevan dan pas alias kita sesuaikan dengan diri kita atau bisnis kita.
Sudahkah Anda menggoblokkan diri?
Salam Goblok...To Be a Great Entrepreneur !
Mustofa Romdloni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar